Pendahuluan
Sampah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Namun, ketika pengelolaannya terganggu, dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Hal inilah yang terjadi di TPS Rawadas, kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Pada awal tahun 2026, tumpukan sampah di lokasi ini sempat menggunung hingga mencapai tinggi sekitar 3–4 meter dengan panjang sekitar 100 meter, bahkan meluber ke badan jalan dan mengganggu aktivitas warga.
Sampahku Dulu
Dulu, sampah hanya dianggap sebagai barang sisa yang dibuang begitu saja. Di lingkungan permukiman, masyarakat umumnya mengumpulkan sampah rumah tangga lalu menyerahkannya kepada petugas kebersihan untuk dibawa ke TPS. Selama proses pengangkutan berjalan lancar, keberadaan sampah tidak terlalu menjadi perhatian.
Namun, persoalan mulai muncul ketika volume sampah terus meningkat sementara kapasitas pengangkutan terbatas. Sejarah penumpukan sampah di wilayah Duren Sawit bukanlah hal baru. Bahkan pada tahun 2014 pernah terjadi penumpukan sampah hingga setinggi sekitar tiga meter akibat keterlambatan pengangkutan armada kebersihan.
Sampahku Masa Kini
Kondisi terkini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar di perkotaan. Di TPS Rawadas, penumpukan sampah terjadi akibat terganggunya proses pengangkutan ke TPST Bantargebang. Truk-truk pengangkut tidak dapat membuang muatan secara normal sehingga sampah terus menumpuk di TPS. Akibatnya, gunungan sampah mencapai ketinggian 3–4 meter dan membentang sekitar 100 meter.
Dampak yang dirasakan masyarakat sangat nyata, antara lain:
- Bau menyengat yang mengganggu kenyamanan warga.
- Akses jalan menuju kawasan pemakaman dan lingkungan sekitar menjadi terhambat.
- Jalanan menjadi becek dan tercampur sampah.
- Risiko gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan meningkat.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sampah bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi juga masalah pelayanan publik, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat.
Sampahku Masa Depan
Peristiwa di TPS Rawadas memberikan pelajaran penting bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Masa depan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
- Memanfaatkan sampah organik menjadi kompos.
- Mendaur ulang sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
- Mendukung program bank sampah dan ekonomi sirkular.
Pemerintah DKI Jakarta juga mendorong sistem pemilahan sampah menjadi beberapa kategori serta pengembangan fasilitas pengolahan sampah modern untuk mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir.
Penutup
TPS Rawadas menjadi cerminan bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat berubah menjadi masalah besar bagi lingkungan dan masyarakat. Dulu sampah hanya dianggap limbah, masa kini sampah menjadi tantangan perkotaan, dan di masa depan sampah harus dipandang sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan. Dengan kesadaran bersama, lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bukanlah sekadar harapan, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan.
Komentar
Posting Komentar